Image credit: Merdeka.com
Sejarah percetakan di Indonesia terdengar berbeda dari era percetakan di Jerman. Di Jerman, era Printing Press berkaitan dengan kepentingan agama, khususnya Katolik, dan politik. Sementara, di Indonesia, percetakan atau mesin cetak pertama kali diperkenalkan oleh VOC Belanda. Berbeda dari Jerman, mesin cetak yang muncul di sini, berkaitan dengan sejarah surat kabar. Selain surat kabar, mesin cetak juga digunakan untuk mencetak dokumen-dokumen pemerintahan.
Dilansir dari Kompas, penerbitan surat kabar sudah dikenal oleh bangsa Eropa sejak abad ke-17. Semenjak mesin cetak pertama kali datang ke Indonesia dari Belanda, perusahaan penerbitan di Batavia ingin memanfaatkannya untuk menerbitkan surat kabar. Namun, selama penjajahan VOC Belanda, mendapatkan izin penerbitan surat kabar tidaklah mudah. Pasalnya, pihak VOC khawatir apabila surat kabar di Indonesia akan menuai kritik dan komentar mengenai sistem pemerintahan mereka.
Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, Willem Baron van Imhoff sempat membangun Toko Merah, serta mengenalkan surat kabar kepada warga Batavia. Pada Februari 1745, surat kabar di Batavia alhasil mendapatkan izin terbit, dan dinamai Bataviasche Nouvelles. Untuk pertama kalinya terbit dengan konten berupa berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita pernikahan, kelahiran, dan kematian. Dilansir dari Percetakanku, koran tersebut lahir dari Percetakan Benteng, yang dikelola Jan Erdman Jordens, dan dicetak berupa kertas berukuran folio dengan 2 kolom pada masing-masing kedua halaman.
Seiring berkembangnya koran dengan pesat, isinya pun berubah menjadi sejumlah kritik terhadap perbudakan dan perilaku penguasa VOC di Batavia. Pada 1746, penerbitan koran pertama di Indonesia ini diberhentikan. Beberapa koran lain muncul seperti Al Juab. Surat kabar ini muncul pada 1795 yang membahas tentang agama Islam. Uniknya, koran Al Juab menjadi koran pertama yang menggunakan bahasa Melayu. Namun, sangat disayangkan kalau surat kabar ini berumur pendek, dan berhenti terbit pada 1824.
Kembali ke surat kabar yang ditangani oleh pihak VOC Belanda. Bataviasche Nouvelles memang sudah berhenti. Akan tetapi, surat kabar ini dilanjutkan dengan nama berbeda, yaitu Verdu Nieuws. Koran tersebut diterbitkan secara mingguan dan berisi sejumlah iklan. Pada masa pemerintahan Daendels, Verdu Nieuws berganti nama menjadi Bataviasche Koloniale Courant. Isinya tidak jauh berbeda, yaitu memuat konten iklan.
Ingin mencetak kebutuhan bisnismu di Gading Serpong? Kamu bisa mengunjungi Instaprint Gading Serpong. Apabila memiliki kendala waktu atau sibuk, juga bisa mengirimkan file melalui WhatsApp, e-mail, hingga sistem penyimpanan cloud seperti Google Drive, WeTransfer, atau Dropbox. Pengiriman juga bisa dilakukan melalui Go Send atau Grab Send. Di Instaprint Gading Serpong, kamu bisa mencetak produk kebutuhan bisnis dan lainnya dengan bahan dan hasil berkualitas.
Instaprint Gading Serpong
Ruko Paramount 7CS Blok DF3 no 9. Paramount Serpong, Gading Serpong, Tangerang
Jam Operasional – Gading Serpong
Mon – Fri : 09.00 – 22.00 WIB
Sat : 09.00 – 20.00 WIB
Sun : Closed
P. : +62 21 2222 6454
WA: +6287886070918
Sumber:
https://nasional.kompas.com/read/2009/07/17/11151138/koran.pertama.di.batavia.bertahan.dua.tahun
https://percetakanku.co.id/napak-tilas-percetakan-di-indonesia/